Klaim Teheran: Fasilitas Militer AS di Tiga Negara Arab Menjadi Sasaran Operasi Rudal dan Drone

By Admin


Ilustrasi
nusakini.com, Teheran — Ketegangan di kawasan Asia Barat kembali meningkat setelah pihak militer Iran mengumumkan peluncuran serangkaian serangan udara ke sejumlah instalasi militer Amerika Serikat yang berada di wilayah Kuwait, Yordania, dan Bahrain pada Kamis (16/7/2026). Langkah ini disebut sebagai tindakan balasan atas operasi udara yang dilancarkan militer Amerika Serikat ke area pesisir selatan Iran satu hari sebelumnya.

Berdasarkan keterangan resmi Humas Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang dilansir kantor berita Fars News Agency, operasi yang dinamakan Operasi Nasr 2 tersebut melibatkan satuan Angkatan Laut dan Pasukan Dirgantara. Dalam operasi gelombang kedelapan ini, mereka mengeklaim telah mengerahkan kombinasi rudal balistik serta pesawat nirawak (drone) tempur untuk menyasar Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait. Pihak IRGC mengeklaim serangan tersebut diduga berhasil merusak radar peringatan dini sistem pertahanan Counter Rocket, Artillery, and Mortar (C-RAM) serta titik berkumpulnya personel militer AS.

Secara bersamaan, Angkatan Darat Iran juga mengumumkan pelaksanaan tahap kesembilan dan kesepuluh Operasi Saeqeh (Petir). Menggunakan drone bunuh diri jenis Arash, serangan tersebut diarahkan ke Pangkalan Udara Al Azraq di Yordania dan Pangkalan Sheikh Isa di Bahrain. Pihak Teheran mengeklaim operasi tersebut membidik infrastruktur vital seperti radar tetap, tangki bahan bakar, logistik pertahanan udara, serta sistem pertahanan rudal Patriot.

Kendati demikian, hingga laporan ini diturunkan, belum ada konfirmasi independen maupun pernyataan resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait tingkat kerusakan yang diklaim oleh Teheran. Otoritas pertahanan Kuwait sejauh ini hanya mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara mereka sempat aktif untuk mencegat beberapa objek terbang yang dianggap sebagai ancaman, yang memicu suara ledakan di sejumlah wilayah. Sementara itu, pihak Yordania dan Bahrain masih belum memberikan respons resmi terkait klaim operasi militer yang meluas di kawasan Teluk tersebut. (*)