Menag Peringatkan Keras: Negara dan Agama Tak Boleh Dibenturkan
By Admin

nusakini.com, Menteri Agama Nasaruddin Umar angkat suara soal maraknya upaya membenturkan agama dengan negara. Ia menegaskan, kematangan beragama dan kematangan berbangsa adalah satu paket yang tak bisa dipisahkan.
Pernyataan tegas itu disampaikan Menag saat bersilaturahmi dengan tokoh lintas agama di Bumi Silih Asih, Pusat Pastoral Keuskupan Bandung, Jawa Barat, Minggu (1/2/2026).
Menurut Nasaruddin, setiap warga Indonesia wajib punya komitmen kebangsaan yang kuat. Namun di saat yang sama, umat beragama juga harus konsisten menjalankan ajaran agamanya secara dewasa dan bertanggung jawab.
“Jangan pernah adu agama dengan negara. Keduanya harus jalan bareng dan saling menguatkan,” tegas Menag.
Ia mengingatkan, Indonesia berdiri di atas kesepakatan bersama. Karena itu, yang harus dikedepankan adalah persamaan dan semangat kebersamaan, bukan perbedaan yang justru memecah belah.
“Kalau perbedaan terus dibesar-besarkan, yang rugi bangsa sendiri,” katanya.
Menag menilai, kematangan beragama terlihat dari sikap yang inklusif, terbuka, dan menghargai keberagaman. Sebaliknya, nasionalisme yang kuat akan melahirkan praktik keagamaan yang damai dan membawa manfaat bagi semua.
Dalam forum tersebut, Menag mengajak seluruh tokoh agama untuk terus memperkuat dialog lintas iman dan kerja sama sosial demi menjaga persatuan bangsa.
“Agama dan kebangsaan itu dua tiang utama. Kalau salah satunya roboh, bangunan bangsa ikut goyah,” ujarnya.
Sementara itu, Uskup Bandung Mgr. Antonius Subianto Bunjamin menyambut hangat kunjungan Menag. Ia menilai pertemuan ini sebagai sinyal kuat persaudaraan lintas iman di Jawa Barat.
“Iman yang dihayati secara mendalam justru mendorong umat makin peduli dan terbuka terhadap sesama,” kata Uskup Antonius.
Silaturahmi ini berlangsung hangat dan penuh keakraban. Pertemuan tersebut menjadi pesan kuat bahwa persatuan dan kerukunan antarumat beragama adalah kunci menjaga keutuhan NKRI. (*)