Menolak Pasif di Senja Usia: Senyum Bahagia Warga Senior Menembus Batas Umur

By Admin


Wisuda Sekolah Lansia/ Dok. Humas DKI
nusakini.com, Rambut perak menyembul di balik topi toga, berpadu dengan garis-garis senyum di wajah-wajah yang tak lagi muda. Di sebuah aula pemerintah daerah di utara Jakarta, puluhan warga senior berkumpul pekan ini. Bukan sekadar merayakan perayaan biasa, melainkan menandai keberhasilan mereka menyelesaikan masa belajar formal yang menguji ketekunan di usia senja.

Di antara riuh kebahagiaan itu, berdiri Damiyen Sri Utami. Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, Sri menolak untuk berdiam diri di rumah. Langkah kakinya tetap mantap menuntaskan seluruh tahapan kelas informal selama berbulan-bulan.

Bagi Sri dan rekan-rekannya, ruang kelas baru ini bukan tempat untuk berburu gelar Akademis semata, melainkan ruang untuk menemukan kembali gairah hidup. Saban minggu, mereka berkumpul untuk mempelajari pola makan seimbang, mempraktikkan gerakan jalan sehat, hingga belajar bercocok tanam dengan metode perkotaan (urban farming).


"Banyak kegiatan yang bermanfaat dan menyenangkan, seperti jalan sehat rutin, belajar pola makan sehat, keterampilan tangan, hingga urban farming," tutur Sri dengan mata berbinar di tengah riuhnya suasana perayaan.

Manfaat yang dipetik tak sekadar urusan kebugaran fisik. Di dalam kelas, terjalin kembali ikatan sosial yang sering kali memudar saat seseorang memasuki usia pensiun. Belajar bersama membuat mereka tidak merasa terasing. Senam bersama dan aktivitas kerajinan tangan mengubah rutinitas kesendirian menjadi momentum kebersamaan yang penuh tawa.

Kemandirian menjadi poin kunci lain yang didapatkan. Para warga senior diajarkan untuk menjaga kebugaran secara mandiri agar tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan anggota keluarga lain dalam menjalankan aktivitas harian. Hubungan antarpeserta pun meluas, membentuk jaringan pertemanan baru yang solid.

Bagi Sri, lembar wisuda ini bukanlah akhir dari perjalanannya menimba ilmu. Semangat belajarnya tak kunjung padam oleh deretan angka usia. "Kalau nanti ada sekolah lanjutan S2, saya ingin ikut lagi," tekadnya mantap. (*)