Pabrik Baterai CATIB Karawang Selesai Dibangun, Kapasitas Tembus 6,9 GWh
By Admin

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia/ Dok. ESDM
nusakini.com, Pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik raksasa milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang dilaporkan telah rampung pada Senin (10/8/2026). Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa fasilitas produksi tersebut kini hanya menanti jadwal peresmian dari Presiden Prabowo Subianto.
Pabrik ini tercatat sebagai fasilitas berskala besar kedua di Indonesia setelah pabrik serupa milik PT Hyundai LG beroperasi pada Juli 2024 silam. "Sudah siap diresmikan, kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden," ujar Bahlil saat memberikan keterangan resmi.
Kapasitas produksi pada tahap perdana diestimasikan mencapai 6,9 Giga Watt hour (GWh) dan diproyeksikan akan terus mengalami eskpansi. Berdasarkan keterangan Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif, pembeli atau penyerap baterai tersebut dipastikan sudah tersedia di pasar.
Pembangunan industri ini memang sengaja dirancang menindaklanjuti permintaan nyata yang telah disepakati oleh para mitra bisnis. "Jadi pada prinsipnya buyer sudah siap, sehingga nanti ketika siap untuk komersial itu memang kita sudah langsung berproduksi," kata Aditya.
Proyek baterai ini menelan investasi total yang ditaksir mencapai US$5,9 miliar. Pabrik CATIB sendiri menempati posisi paling hilir dalam rantai nilai pengolahan nikel yang komprehensif tersebut.
Ekspansi pabrik ini ditargetkan menyentuh kapasitas minimum 15 GWh di masa mendatang untuk memenuhi kebutuhan global. "Kalau kita konversi 15 GWh itu menjadi kendaraan listrik, itu kurang lebih ekuivalen dengan sekitar 250 ribu kendaraan listrik," jelas Aditya.
Fasilitas ini berlokasi strategis di kawasan Artha Industrial Hill dan Karawang New Industry City. Sebelumnya, peletakan batu pertama proyek ini diresmikan langsung oleh Prabowo pada 29 Juni 2025 lalu.
Proyek ekosistem baterai terintegrasi ini diklaim pemerintah sebagai inisiatif manufaktur terbesar di kawasan Asia Tenggara. Keberadaannya dinilai sangat bergantung pada kelancaran rantai pasok nikel lokal sebagai bahan baku utamanya.
Menurut pantauan terkini, proses produksi uji coba dilaporkan telah berjalan mulus di dalam fasilitas pabrik tersebut. "Satu adalah LG di saat saya masih jadi Menteri Investasi, dan satu adalah CATL di saat saya sudah jadi Menteri ESDM," ungkap Bahlil membandingkan pencapaiannya. (*)