Peta Hilirisasi Mineral Bergeser, Bauksit Geser Dominasi Nikel di Kuartal II-2026

By Admin


Bauksit
nusakini.com, Jakarta — Peta realisasi investasi hilirisasi sumber daya alam di Indonesia mencatatkan rekor baru. Komoditas bauksit kini memimpin capaian investasi pengolahan mineral nasional pada kuartal II-2026, menggeser dominasi sektor nikel yang selama ini menjadi kontributor utama.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang disampaikan pada Kamis (23/7/2026), realisasi investasi pada komoditas bauksit melonjak drastis hingga 193 persen secara kuartalan. Angka investasi bauksit menembus Rp40,1 triliun pada kuartal II-2026, naik tajam dibandingkan kuartal I-2026 yang tercatat sebesar Rp13,7 triliun.

Sementara itu, sektor nikel berada di posisi kedua dengan raihan investasi sebesar Rp29,4 triliun, disusul tembaga senilai Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, serta pasir silika sebesar Rp4 triliun. Komoditas mineral dan energi lainnya, seperti emas, timah, hingga batu bara, secara akumulatif menyumbang Rp4,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, menjelaskan bahwa total investasi sektor hilirisasi pada periode ini mencapai Rp152,7 triliun atau berkontribusi sekitar 29,8 persen dari total realisasi investasi nasional.

"Pergeseran ini ditopang oleh percepatan pembangunan proyek pengolahan bauksit, baik yang digarap oleh pemodal domestik maupun asing," ujar Rosan saat melaporkan capaian tersebut di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Rosan menuturkan, perkembangan ini menjadi indikator positif bahwa agenda diversifikasi pengolahan komoditas tambang mulai berjalan dan tidak lagi bergantung penuh pada nikel. Kendati demikian, ia mengakui industri pengolahan non-nikel umumnya masih berada pada tahap awal pengembangan rantai pasok.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, saat ini terdapat 14 proyek smelter mineral terintegrasi di Indonesia dengan estimasi nilai investasi US$8,69 miliar. Sebagian dari proyek tersebut mencakup fasilitas pemurnian bauksit terintegrasi yang tersebar di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.