Urai Krisis Sampah Bandung, Warga Pasirlayung Adopsi Sistem Peternakan Vertikal Berbasis Maggot
By Admin

Linus, Akademisi Program Studi Fisika ITB
nusakini.com, – Warga RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Kecamatan Cibeunying Kidul, Kota Bandung, kini memiliki metode baru dalam menangani persoalan limbah domestik. Melalui sistem peternakan vertikal terpadu yang dinamakan Bersemi Farm, kawasan pemukiman ini mampu mereduksi tumpukan limbah dapur hingga ratusan kilogram setiap harinya untuk dialihkan menjadi pakan ternak potensial.
Inovasi yang diinisiasi oleh akademisi program studi Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB), Linus Pasasa, secara resmi diperkenalkan kepada publik pada Selasa (23/6/2026). Melalui sistem yang dinamakan Apartemen Ayam Maggot, limbah organik rumah tangga diurai menggunakan larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly/BSF) dalam waktu sekitar 48 jam. Hasil penguraian dan larva tersebut kemudian diputar kembali menjadi sumber pakan bagi ayam kampung, entok, hingga ikan peliharaan warga.
"Langkah ini diharapkan dapat memperpanjang siklus manfaat dari sisa makanan atau sampah organik perkotaan. Jadi prosesnya tidak berhenti sampai di komposter menjadi pupuk saja, melainkan bisa dikonversi menjadi pemenuhan kebutuhan protein protein masyarakat," ujar Linus saat ditemui di Pasirlayung, Selasa (23/6/2026).
Fasilitas pengolahan di RW 02 Pasirlayung ini diklaim memiliki kapasitas tampung maksimal hingga 300 kilogram sampah per hari. Jumlah tersebut tercatat melampaui rata-rata pasokan harian warga setempat yang saat ini berkisar antara 50 hingga 75 kilogram. Karena kapasitas yang masih longgar, pengelola membuka kesempatan bagi wilayah sekitar untuk mengirimkan limbah organiknya agar tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketua RW 02 Kelurahan Pasirlayung, Rahayu Wijayanti, membenarkan adanya perubahan pola pembuangan limbah di lingkungannya sejak program kolaboratif ini berjalan di awal tahun 2026. Warga kini membagi sisa dapur ke dalam dua jenis: sisa makanan matang untuk pakan ternak langsung, serta kulit buah atau sayuran mentah untuk pakan maggot.
Proyek lingkungan berbasis ekonomi sirkular ini berjalan lewat kemitraan lintas sektor yang melibatkan civitas akademika ITB, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, aparatur kelurahan, kader PKK, hingga komunitas Bank Sampah Bersemi 02. Saat ini, metode kandang vertikal serupa dilaporkan mulai diadopsi oleh sejumlah wilayah lain di Kota Bandung, seperti kawasan Tamansari, Lebak Siliwangi, Cipadung, hingga Bandung Wetan. (*)