Jejak Apala di Bawah Langit Cibubur
By Admin
Andi Yuslim Patawari Bersama Peserta Dari Bone Di Jamnas Cibubur
nusakini.com, Debu tipis mengepul lambat di udara perkemahan Cibubur, Jakarta, pada Minggu siang, 16 Agustus 2026. Di sela-sela riuh peluit, warna-warni tenda, dan derap langkah ribuan remaja berseragam cokelat, seorang pria berjalan dengan ritme pelan. Ia tidak mengenakan seragam safari atau setelan jas. Kaus golf putihnya memantulkan cahaya matahari kemarau, sangat kontras dengan songkok recca—peci anyaman berbenang emas khas Bugis—yang bertengger rapi di kepalanya.
Pria itu, Andi Yuslim Patawari, seolah sedang membawa sepotong lanskap Kabupaten Bone ke tengah kerasnya tanah ibu kota.
Matanya menyapu deretan tenda milik Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Bone. Ada senyum tipis yang tertahan setiap kali ia melihat anak-anak muda itu sibuk dengan tali temali atau sekadar beristirahat di bawah naungan terpal. Tangan yang biasanya sibuk menyusun strategi ekonomi sebagai Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, atau membolak-balik berkas akademik di meja Wakil Rektor Universitas Jakarta, kini terlipat santai di dada.
Bagi orang-orang yang mengenalnya di Jakarta, Andi Yuslim—atau AYP—adalah tokoh muda nasional, mantan Ketua DPP KNPI Pusat yang bergerak di lingkaran elite. Namun, di bawah terik matahari Cibubur hari itu, lewat sentuhan songkok recca di kepalanya, ia kembali menjadi sekadar putra daerah. Seorang lelaki yang lahir dan menghirup udara pertama di Desa Apala, Kecamatan Barebbo.
"Saya ini putra asli Bone," suaranya mengalun tenang, memecah derik serangga di sekitar area perkemahan. Nada bicaranya tidak menggelegar seperti politisi di atas mimbar, melainkan lirih dan berhati-hati, layaknya seorang paman yang sedang menasihati keponakannya. "Sejauh apa pun kita melangkah dan beraktivitas di tingkat nasional, perhatian terhadap Bone tidak boleh putus."
Di sekelilingnya, remaja-remaja belasan tahun mendengarkan. Jambore Nasional (JAMNAS) bukanlah perkemahan akhir pekan biasa. Ini adalah panggung lima tahunan. Seleksinya ketat, memeras keringat dan air mata, menyisihkan ribuan nama sebelum segelintir anak terpilih menginjakkan kaki di Cibubur. AYP menyadari betul beban dan kebanggaan yang ada di pundak remaja-remaja di hadapannya.
Ia menatap mereka bukan sekadar sebagai kelompok pemuda berseragam pramuka, melainkan sebagai mesin waktu yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan.
"Generasi muda Bone harus diberi ruang," katanya lagi, kali ini tatapannya beralih dari anak-anak itu menuju ke arah cakrawala perkemahan. "Saya ingin anak-anak Bone tidak hanya menjadi penonton. Mereka harus berani tampil, berprestasi, dan mengambil peran di tingkat nasional."
Dalam pandangan AYP, ada garis lurus yang tak kasatmata antara kedisiplinan mendirikan tenda hari ini dengan kemampuan membangun ekonomi daerah esok hari. Karakter, kemandirian, dan gotong royong yang ditempa di tengah panasnya lapangan adalah modal krusial. Tanpa itu, sebuah daerah hanya akan melahirkan pekerja, bukan pemimpin. "Kalau mau lihat calon pemimpin masa depan," gumamnya, "ada di sini, di JAMNAS Pramuka 2026."
Di sudut tenda yang lain, Muh Yunus, Pembina Kwarcab Bone, mengamati interaksi tersebut dengan saksama. Wajahnya yang gurat-guratnya menyimpan lelah setelah berhari-hari mengurus logistik dan mental anak asuhnya, kini terlihat lebih rileks.
Bagi Yunus, kehadiran seorang tokoh Jakarta di tenda mereka bukanlah sekadar formalitas kunjungan. Di tengah lautan ribuan peserta dari seluruh Indonesia, dikunjungi oleh 'orang kampung sendiri' yang telah mapan di ibu kota membawa semacam energi magis.
"Kami sangat mengapresiasi," kata Yunus, suaranya membawa logat Bugis yang kental. Ia merapikan kerah seragam cokelatnya. "Beliau datang sebagai putra Bone yang kiprahnya di nasional. Bagi kami para pembina, ini bentuk kepedulian yang sangat berarti. Pramuka butuh dukungan semua pihak... dunia usaha, pemerintah, dan tokoh-tokoh yang punya jaringan luas."
Matahari mulai condong ke barat, memanjangkan bayangan tenda-tenda di atas rumput Cibubur yang mengering. AYP bersiap untuk pamit, kembali ke rutinitas ibu kota, ke ruang-ruang ber-AC tempat keputusan-keputusan besar dibuat. Namun sebelum melangkah pergi, ia membetulkan letak songkok recca di kepalanya.
Seorang anggota Pramuka muda tampak canggung memberikan hormat. AYP membalasnya bukan dengan hormat militer yang kaku, melainkan dengan sebuah tepukan pelan di bahu anak itu. Sebuah gestur kecil, tanpa kata-kata, namun menyiratkan pesan yang dalam: bahwa jarak ribuan kilometer dari pesisir Teluk Bone ke belantara beton Jakarta bukanlah sebuah batas yang tak bisa diseberangi. Semuanya terhubung, teguh dan sunyi, seperti simpul tali yang mengikat kuat tongkat-tongkat kayu di perkemahan itu. (*)