nusakini.com - Jakarta  - Selain sebagai media ekspresi seni, teater bisa menjadi medium untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat mengenai isu terkini. Lewat Festival Teater, Dewan Kesenian Jakarta didukung oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Institur Kesenian Jakarta, British Council dan Japan Foundation menggelar Djakarta Teater Platform bertema Silent Mass.

Direktur Pengelolaan Media Publik Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo, Siti Meiningsih mengungkapkan pertunjukan teater dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat. 

“Tentu saja yang terpenting adalah kontennya. Kami menyampaikan informasi ke publik melalui pertunjukkan rakyat di seluruh wilayah Indonesia," ujarnya saat memeberi keterangan di saat jumpa media di Gedung Graha Bhakti Budaya, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (06/09/2018).

Menurut Direktur Pengelolaan Media, kemasan teater memungkinkan penyampaian pesan dalam bentuk yang lebih kritis akan kondisi yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. 

"Isu (silent mass) Isu tersebut dipilih lantaran menggambarkan kondisi masyarakat yang saat ini 'lumer' dengan teknologi. Seakan hubungan di antara keduanya tidak ada lagi batasan," katanya.

Djakarta Teater Platform, merupakan program yang dibentuk Dewan Kesenian Jakarta sejak tahun 2016, kini kian tumbuh menjadi sebuah festival kota. Festival ini berbasis lab penciptaan, sebuah kerja eksperimental kurasi teater. 

Festival Teater Bertajuk Silent Mass tahun ini merupakan kali ketiga digelar untuk menghibur Pecinta Pertunjukan Seni di Gedung Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Tema masyarakat diam dikemas sebagai festival kota dan proyek eksperimentasi kurasi teater untuk mempertemukan antara aktivasi kebudayaan teater dengan kehidupan kota. 

Perwakilan Rektor IKJ Seno Joko Suyono menuturkan festival ini berlangsung di dua tempat terpisah, yaitu Graha Bhakti Budaya TIM, dan Studio Tom FTV IKJ. Festival ini dapat dinikmati siapapun tanpa dipungut biaya, alias gratis. 

"Kami di IKJ sangat menyambut baik sekali tawaran untuk memberikan workshop. Menurut saya workshop ini sangat bermanfaat dan penting bagi Indonesia karena menambah wawasan tentang teater," ujarnya.

Menurut Seno, isu “massa diam” dipilih sebagai bungkusan tematik festival, untuk menjadi ruang refleksi dari kehidupan publik yang mudah terprovokasi oleh hoaks, viral maupun pencitraan tanpa investigasi terlebih dulu.

Grup teater dari seluruh dunia dan dalam negeri akan hadir pada pementasan teater yang akan berlangsung hingga 28 Oktober itu, antara lain Teater Ash (Hongkong), Fujiyamaannette (Tokyo), Teater Kubur (Jakarta), Rokateater, (Yogyakarta), dan Curious Directive (Norwich).

Selain pertunjukkan teater, sejumlah diskusi juga digelar sebagai sarana berbagi ilmu pengetahuan kepada publik. Pembicara yang hadir antara lain Irwan Ahmet (Perfomance Art, periset), Yaasraf Piliang (Akademisi, filsuf), Shinta Febriany (Sutradara Teater), Gumilar (Perwakilan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta), Anggun Anggendari (Aktor Teater, DKV) hingga Rizal Malna (Ketua Dewan Komite Kesenian Jakarta).

Diskusi akan mengupas pandangan etis masa kini sebagai literasi digital. Misalnya bagaimana membaca performatif kota dalam praktek formatif seni pertunjukkan. Termasuk dasar-dasar penciptaan yang mulai ikut terguncang karena munculnya aktivasi aplikasi berdasarkan prosedur algoritme.

Konferensi Pers dihadiri pula Adam Pushkin (Director Arts and Creative Industries British Council), Tsukamoto Norihisa (Director General Jakarta Foundation Jakarta), Irawan Karseno (Ketua Dewan Kesenian Jakarta), Seno Joko Suyono (Perwakilan Institut Kesenian Jakarta, R.B Armantono (Dekan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta), Adam Glass (Sutradara Teater Ash), serta Dindon W.S (Sutradara Teater Kubur). (hm.ys/ma)