Asing Borong Saham Perbankan, IHSG Ditutup Menguat ke 6.525
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Jakarta, 24 Agustus 2026 - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pada Jumat, 21 Agustus 2026, dengan kenaikan sebesar 0,37 persen ke posisi 6.525. Penguatan ini ditopang oleh aktivitas transaksi yang kuat dengan total nilai mencapai Rp17,4 triliun dari 57 miliar lembar saham.
Arus modal asing terpantau deras masuk ke pasar domestik dengan catatan beli bersih mendekati Rp1 triliun selama dua hari beruntun. Fenomena ini diyakini sangat dipengaruhi oleh apresiasi nilai tukar Rupiah yang menyentuh kisaran Rp17.649 per dolar Amerika Serikat.
"Struktur kenaikan IHSG saat ini jauh lebih sehat karena penguatan mulai menyebar ke berbagai sektor dan saham blue chip," kata Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas. Menurutnya, kondisi nilai tukar mata uang domestik yang stabil menjadi daya tarik utama bagi pemodal asing.
Aliran dana luar negeri tersebut tampak terpusat pada sektor perbankan, dengan saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memimpin perolehan sebesar Rp628 miliar. Saham perbankan lainnya yang turut diborong asing secara berturut-turut meliputi BBCA, BMRI, dan BBNI.
Sementara itu, pergerakan indeks juga diwarnai oleh sejumlah kabar rencana aksi korporasi strategis. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dilaporkan segera merampungkan tahap akhir akuisisi seratus persen atas saham Loyal Metals.
Selain itu, PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP) dikabarkan tengah bersiap menggelar penawaran umum perdana dengan target perolehan dana Rp45,2 miliar. Emiten lain, PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL), juga disebutkan sedang merencanakan perluasan bisnis menuju sektor infrastruktur digital.
Dari sisi teknikal, pergerakan indeks dinilai masih memiliki peluang tren naik selama level batas bawah bertahan kuat. "Skenario bullish IHSG masih tetap terbuka selama indeks mampu menjaga area support utama di 6.377," ujar Satriawan H, Chartist Maybank Sekuritas.
Apabila momentum positif ini berlanjut, IHSG diyakini berpotensi menguji area resistansi berikutnya di level 6.705. Meski demikian, kalangan investor tetap diimbau mewaspadai kemungkinan koreksi jika indeks gagal bertahan di atas batas bawah tersebut.
Dominasi pembelian asing di sektor perbankan ini didasarkan pada prospek pertumbuhan kredit yang dinilai masih berpotensi besar. Kualitas aset yang terus membaik turut mengukuhkan kepercayaan pelaku pasar terhadap kesehatan industri keuangan nasional.
Di sisi lain, sektor barang konsumsi juga diproyeksikan meraup keuntungan dari tren penguatan Rupiah belakangan ini. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan ongkos impor bahan baku yang pada gilirannya dapat mempertebal margin keuntungan emiten terkait. (*)