Bung Karno dan Sebuah Makam yang Lama Terdiam
By Admin

Oleh : Angga Nugraha*
nusakini.com, Kita mengenal Bung Karno sebagai proklamator. Juga sebagai orator yang kata-katanya sanggup menggerakkan massa. Sebagai pemimpin dunia ketiga, namanya tercatat dalam sejarah anti-imperialisme. Namun ada sisi lain dari dirinya yang jarang dibicarakan: Bung Karno sebagai penjaga ingatan peradaban.
Kisah ini terjadi pada tahun 1956, ketika Bung Karno melakukan kunjungan kenegaraan ke Uni Soviet. Di tengah jadwal diplomasi yang padat dan protokol yang kaku, ia mengajukan permintaan yang terdengar ganjil bagi tuan rumahnya: ia ingin mengunjungi makam Imam Bukhari.
Imam Bukhari bukan nama kecil. Dialah penyusun Shahih Bukhari, kitab hadis paling otoritatif dalam Islam Sunni. Ulama besar yang pengaruhnya melampaui batas negara, etnis, bahkan abad. Bung Karno meyakini bahwa Imam Bukhari dimakamkan di sekitar Samarkand, wilayah Asia Tengah yang saat itu berada di bawah kekuasaan Soviet.
Permintaan itu membuat otoritas Soviet kebingungan. Pada masa itu, simbol-simbol keagamaan—termasuk makam ulama—tidak mendapat tempat terhormat. Banyak situs Islam dibiarkan terbengkalai, bukan karena dilupakan sepenuhnya, melainkan karena dianggap tak relevan dalam negara sosialis. Makam Imam Bukhari termasuk di antaranya: ada, tetapi nyaris tak diingat.
Bung Karno bersikeras. Bukan dengan nada marah, tetapi dengan keyakinan seorang yang tahu persis apa yang ia cari. Penelusuran pun dilakukan. Dan benar, ditemukan sebuah makam sederhana dengan nama Imam Muhammad bin Ismail al-Bukhari.
Perlu dicatat: makam itu sejatinya tidak pernah benar-benar hilang dari catatan sejarah. Namun selama bertahun-tahun, ia terpinggirkan dari kesadaran publik. Dalam konteks inilah peran Bung Karno menjadi penting. Ia bukan “penemu” dalam arti harfiah, melainkan pemantik. Dengan satu permintaan yang sederhana namun bermakna, ia menghidupkan kembali perhatian terhadap warisan besar Islam yang nyaris dilupakan.
Dari titik itulah, perlahan terjadi perubahan. Makam Imam Bukhari mulai diakui, dirawat, dan kemudian dipugar. Kini, kawasan tersebut berkembang menjadi kompleks ziarah dan pusat studi Islam yang didatangi umat Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Bagi Bung Karno, kunjungan itu bukan sekadar agenda simbolik. Ia percaya bahwa agama—termasuk Islam—adalah bagian dari peradaban manusia. Bukan sesuatu yang harus disingkirkan, melainkan warisan kultural dan moral yang membentuk martabat bangsa. Dalam sosok Imam Bukhari, Bung Karno melihat nilai universal Islam: keilmuan, integritas, dan kemanusiaan.
Kisah ini mengingatkan kita bahwa diplomasi tidak selalu berbicara tentang kekuasaan dan ekonomi. Kadang, diplomasi adalah soal ingatan. Tentang siapa yang kita hormati. Tentang warisan apa yang kita jaga.
Dan sejarah pun mencatat, dari seorang presiden negara muda bernama Indonesia, dunia Islam kembali menoleh pada salah satu mahagurunya. (*)
*Kader Muda PDI Perjuangan