Denny Widya dan Ruang Kecil untuk Anak-Anak yang Ingin Bertumbuh
By Admin

Denny Widya
nusakini.com, Malam itu hujan turun tipis di Jakarta, membekas seperti embun di kaca-kaca gedung yang memantulkan cahaya kota. Di sebuah ruangan sederhana dengan kursi plastik yang tidak seragam, beberapa anak muda duduk melingkar sambil memegang telepon genggam mereka. Sesekali layar menyala, memercikkan cahaya biru pucat ke wajah-wajah yang tampak lelah tetapi belum ingin pulang.
Di sudut ruangan, seorang pemuda mencoba menyusun kalimat sebelum berbicara di depan forum kecil itu. Tangannya berkeringat. Suaranya sempat pecah.
“Dulu saya pikir hidup itu cuma soal cepat dapat uang,” katanya pelan.
Tak ada tepuk tangan yang berlebihan. Hanya anggukan kecil. Seorang pria berkemeja gelap yang duduk di barisan belakang memperhatikan sambil sesekali mencatat sesuatu di buku kecil bersampul hitam.
Pria itu Denny Widya.
Ia tidak banyak bergerak malam itu. Tidak memberi pidato panjang. Tidak memotong pembicaraan. Sesekali ia mencondongkan badan, mendengar lebih dekat, seperti seseorang yang lebih tertarik memahami manusia daripada sekadar mengatur acara.
Di luar ruangan, kota terus berlari dengan ritmenya sendiri: notifikasi yang tak berhenti berbunyi, video pendek yang terus berganti, dan generasi muda yang tumbuh dalam dunia serba cepat—dunia yang sering membuat orang merasa harus selalu terlihat berhasil bahkan sebelum benar-benar memahami dirinya sendiri.
Barangkali dari kegelisahan itulah GEMAR Indonesia lahir pada 2021.
Generasi Emas Berkarya tidak dimulai dari gedung besar, bukan pula dari kampanye yang penuh jargon motivasi. Ia tumbuh perlahan dari ruang-ruang kecil seperti malam itu—ruang tempat anak muda bisa bicara tanpa takut dihakimi, gagal tanpa segera ditertawakan, dan belajar tanpa harus pura-pura sempurna.
Denny percaya ada sesuatu yang hilang dalam cara zaman mendidik generasi muda hari ini.
“Anak muda sekarang dekat dengan teknologi,” katanya suatu ketika, “tetapi mereka juga membutuhkan nilai, mentor, dan ruang untuk membentuk karakter.”
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun di tengah dunia yang terlalu sibuk mengejar perhatian, kesederhanaan kadang justru menjadi sesuatu yang langka.
Denny sendiri datang dari dunia yang keras dan serba terukur. Sebagai Komisaris PT Paradise Communications dan Direktur PT Dymar Jaya Indonesia, hidupnya dipenuhi jadwal rapat, target bisnis, dan keputusan-keputusan yang harus diambil cepat. Tetapi orang-orang yang bekerja dekat dengannya mengenal kebiasaan lain: ia lebih suka turun langsung ke lapangan daripada hanya membaca laporan.
Ia memperhatikan detail kecil.
Cara seseorang menjawab pertanyaan. Cara anak muda menatap lawan bicara ketika gugup. Cara mereka menerima kritik.
Bagi Denny, dunia industri masa depan tidak hanya membutuhkan orang pintar. Ia mencari integritas, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, dan mentalitas bertumbuh—hal-hal yang tidak selalu diajarkan algoritma media sosial.
Karena itu GEMAR dibangun bukan hanya sebagai komunitas, melainkan ruang mentorasi.
Di sana anak-anak muda belajar berbicara di depan publik, membangun proyek, membuat podcast, menerbitkan buku, hingga turun langsung ke kegiatan sosial menemui masyarakat. Mereka belajar bahwa kehidupan tidak selalu sebersih feed Instagram.
Kadang mereka bertemu orang-orang yang hidupnya nyaris tak terlihat oleh kota.
Di situlah empati mulai tumbuh.
Kartika Rahmadana, Ketua Umum GEMAR Indonesia, sering melihat perubahan itu muncul perlahan. Anak-anak muda yang awalnya datang hanya untuk mencari relasi mulai belajar mendengarkan orang lain.
“Kadang mereka hanya butuh ruang yang tepat supaya energinya tidak habis untuk hal-hal yang kosong,” katanya.
Ruangan-ruangan GEMAR dipenuhi suara yang beragam: tawa gugup peserta pertama kali presentasi, bunyi mikrofon podcast yang sesekali mendesis, aroma kopi sachet, buku-buku yang ditumpuk di sudut meja, dan percakapan panjang tentang masa depan yang sering terasa kabur.
Di salah satu program podcast GEMAR Inspirasi, mereka menghadirkan cerita anak-anak muda biasa dengan perjalanan hidup yang tidak biasa: alumni SMK yang berhasil memimpin tim penjualan perusahaan nasional, hingga mereka yang pernah gagal lalu memilih kembali mengajar masyarakat sekitar.
Cerita-cerita itu jarang viral.
Tetapi justru karena itulah ia terasa nyata.
Di sela aktivitas GEMAR, Denny tetap bergerak di banyak ruang lain. Ia dipercaya sebagai Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta Tingkat Nasional dan Pengurus Harian Majelis Pendidikan Kristen. Dalam Lomba Kompetensi Siswa Dikmen Provinsi DKI Jakarta tahun 2025 dan 2026, ia kembali menjadi juri bidang Digital Marketing.
Namun di meja penjurian, ia tidak hanya melihat desain kampanye digital.
Ia bertanya tentang strategi.
Tentang logika data.
Tentang alasan di balik keputusan kreatif.
Kompetisi, baginya, bukan sekadar perebutan piala, melainkan cara mengukur apakah pendidikan benar-benar menyiapkan manusia untuk dunia nyata.
Pandangan serupa ia bawa ketika memimpin DPD Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI) DKI Jakarta. Ia mendorong lahirnya tenaga penjual modern yang tidak hanya mengejar transaksi, tetapi memahami teknologi, data, dan solusi bisnis.
Namun di balik seluruh jabatan dan struktur formal itu, ada kebiasaan lain yang terus ia pertahankan: menulis.
Di tengah jadwal korporasi dan organisasi yang padat, Denny melahirkan 19 buku orisinal. Ada buku bisnis seperti Berani Jualan dan Aspirasi Generasi 4.0. Ada pula buku reflektif seperti Cinta di atas Bidak Catur, yang lahir dari pengalamannya di dunia catur bersama Percasi Banten. Sisi paling sunyi dirinya muncul lewat judul-judul seperti Melodi Kasih Ibu atau Papa Sumber Inspirasiku.
Bagi Denny, tulisan adalah cara menjaga pengetahuan agar tidak mati bersama usia manusia.
Mungkin karena itu pula GEMAR ikut menerbitkan karya anak muda seperti Janji Matahari dan Ombak Inspirasi. Judul-judul yang terdengar sederhana, tetapi menyimpan sesuatu yang makin jarang ditemukan: keyakinan bahwa kata-kata masih bisa menyelamatkan seseorang dari merasa sendirian.
Larut malam, forum kecil itu mulai bubar. Kursi-kursi digeser perlahan. Hujan di luar tinggal menyisakan jalanan basah yang memantulkan lampu kota seperti pecahan kaca.
Beberapa anak muda masih berdiri di depan ruangan, berbicara tentang rencana hidup mereka yang belum sepenuhnya jelas.
Denny menutup buku catatannya, lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa banyak bicara.
Di zaman yang gemar menciptakan ilusi tentang kesuksesan instan, mungkin pekerjaan seperti ini memang tidak selalu terlihat besar.
Tetapi dari ruang-ruang kecil seperti itulah, perlahan, seseorang belajar percaya lagi pada dirinya sendiri.
Dan kadang, masa depan memang dimulai dari hal sesederhana itu. (*)