Di Balik Kritik Mahasiswa dan Bayang-Bayang Intimidasi
By Admin
Ilustrasi
nusakini.com, Di tengah duka atas tragedi seorang anak di Nusa Tenggara Timur, ruang publik kembali dihadapkan pada pertanyaan tentang batas aman menyuarakan kritik.
Belakangan ini, Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto menjadi sorotan setelah menyampaikan kritik terhadap pemerintah terkait perlindungan hak dasar anak. Kritik tersebut disampaikan dalam konteks kepedulian terhadap kasus yang memicu empati nasional.
Namun, di tengah proses yang masih berjalan, Tiyo justru mengaku menerima pesan bernada ancaman melalui aplikasi perpesanan. Ancaman itu tak hanya menyentuh aspek keselamatan pribadi, tetapi juga memuat tudingan yang meragukan integritasnya.
Bagi sebagian mahasiswa, situasi ini memunculkan kegelisahan baru. Kritik yang semestinya menjadi bagian dari diskursus demokratis justru dibayangi kekhawatiran akan intimidasi.
Anggota Komisi X DPR RI Hilman Mufidi menilai perbedaan pandangan seharusnya tidak disikapi dengan tekanan atau teror. Dalam pernyataannya, ia mengingatkan bahwa setiap warga negara memiliki hak untuk menyampaikan pendapat secara terbuka.
Di tengah sensitivitas isu anak dan duka masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa ruang dialog publik membutuhkan kedewasaan semua pihak. Kritik, empati, dan penegakan hukum semestinya berjalan beriringan tanpa rasa takut. (*)