Harga Anjlok Akibat Oversupply, Pemerintah Kaji Moratorium Smelter Nikel Setengah Jadi
By Admin

Ilustrasi Nikel
nusakini.com, Pemerintah Indonesia tengah mengkaji rencana penghentian sementara atau moratorium bagi fasilitas pemurnian nikel yang hanya memproduksi barang setengah jadi. Kebijakan ini dibahas menyusul kondisi kelebihan pasokan global yang menekan harga nikel di pasar dunia.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyebutkan bahwa sebagian besar smelter saat ini baru mengolah nikel pada tingkat 50 hingga 60 persen. Menurut catatan pemerintah, surplus pasokan di pasar internasional kini telah menembus angka 2,5 juta ton.
Wacana penekanan produksi ini disampaikan Bahlil di sela-sela agenda Investor Daily Summit 2026 di Jakarta pada Rabu (7/10/2026). "Ini kan oversupply, makanya harganya lagi jatuh, kita dapat pertimbangkan untuk industri yang setengah jadi ini kita mulai mencoba untuk meminimalisir, bahkan mungkin kita melakukan moratorium," ungkap Bahlil.
Langkah pemerintah ke depan dipastikan akan lebih difokuskan pada penguatan industri yang mampu menghasilkan produk hilir akhir. Volume produksi nasional juga akan dikendalikan secara ketat agar nikel dalam negeri tidak terjual dengan harga rendah saat pasar sedang jenuh.
Pengaturan tingkat operasional smelter akan disesuaikan secara terukur dengan dinamika penawaran dan permintaan global sesungguhnya. "Sekalipun kapasitas terpasang contoh katakanlah 10, mungkin yang akan bisa berproduksi selama kita masih terjadi oversupply tidak sampai 10," imbuhnya.
Selain untuk memulihkan stabilitas harga, pembatasan produksi ini ditujukan demi melindungi cadangan sumber daya alam Indonesia. Bahlil mengingatkan bahwa nikel merupakan komoditas yang tidak bisa diperbarui, sehingga laju eksploitasinya harus dipantau.
Pemerintah secara tegas menolak membanjiri pasar dengan produk nikel saat tren harga sedang merosot. "Kalau nikel, batu bara, diambil kan enggak bisa berbuah, jadi tolong kita jaga ini juga harus berkelanjutan untuk masa depan bangsa ya," tandasnya. (*)