Kemenag Perluas Penerapan Kurikulum Berbasis Cinta di Lembaga Pendidikan Islam

By Admin


Dok. Kemenag
nusakini.com, Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) berkomitmen memperluas implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di seluruh jenjang pendidikan Islam demi menekan angka kekerasan terhadap anak. Langkah taktis ini diambil guna memastikan lingkungan madrasah hingga pesantren menjadi ruang belajar yang aman dan humanis.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, Amien Suyitno, menyatakan bahwa kurikulum ini dirancang untuk menyemai nilai-nilai kasih sayang sejak usia dini. Menurutnya, aspek akademik tidak boleh mengesampingkan kenyamanan psikologis peserta didik.

"Kami memiliki program Kurikulum Berbasis Cinta yang diinisiasi langsung oleh Bapak Menteri Agama. Salah satu poin pentingnya adalah memastikan anak-anak sejak dini disemai dengan nilai kasih sayang," ujar Amien Suyitno dalam Dialog Interaktif Gerak Bersama Anak Indonesia 2026 di Epicentrum XXI, Jakarta, Minggu (19/7/2026).

Amien menjelaskan, penerapan KBC tidak sekadar menjadi bahan hafalan di dalam kelas, melainkan diwujudkan sebagai budaya yang hidup dalam ekosistem pendidikan. Penerapan ini ditargetkan menyasar seluruh lini, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), madrasah, pesantren, hingga perguruan tinggi keagamaan.

Sebagai langkah konkret penguatan di lembaga berasrama (boarding school), Kemenag juga mengadakan pelatihan khusus bagi para pengasuh. Upaya ini dinilai strategis mengingat intensitas interaksi pengasuh dan santri di pesantren sangat tinggi. Kemenag berharap, standardisasi pengasuhan ini mampu melahirkan ruang belajar yang inklusif dan bebas diskriminasi melalui Gerakan Nasional Madrasah Ramah Anak serta Pesantren Ramah Anak.

Kebijakan ini juga mendapat dukungan dari lintas sektoral. Menko PMK Pratikno yang hadir dalam acara tersebut menegaskan pentingnya sinergi untuk menjamin hak anak di ruang publik. Sementara itu, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Atip Latipulhayat, memaparkan rencana revitalisasi satuan pendidikan lewat Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Di sisi lain, Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengingatkan pentingnya proteksi anak di ruang siber.

Kemenag berharap penguatan karakter berbasis empati ini dapat menjadi benteng kokoh dalam melindungi anak dari berbagai ancaman kekerasan, baik di ruang fisik maupun digital. (*)