Membangunkan Kesadaran Masyarakat Dan Memasyaratkan Kesadaran Yang Harus Dibangkitkan - Dari Fatamorgana Kenikmatan Imitasi Menuju Peradaban Madinah

By Admin



Oleh : Syarif Ja'far Shadiq SM.KLB

Pengamat Pendidikan Dan Sosial

Kesenjangan Antara Ekspektasi dan Komitmen

Dari zaman ke zaman kita melihat pola yang sama. Ketika keterpurukan mulai terasa akibat berbagai sikap dan perilaku yang negatif, mulailah masyarakatnya berekspektasi akan datangnya _Insan Kamil_ atau semacam Superman atau Avatar yang akan membimbing mereka.

Namun ironis. Saat Tuhan kabulkan doa mereka dengan mendatangkan seorang manusia yang membimbing mereka, apa yang terjadi selanjutnya?  
Alih-alih patuh kepada utusan Tuhan, malah mereka meremehkan. Bahkan ada suatu bangsa yang membunuh utusan Tuhan sebanyak 70 nabi-nabi¹.

Di zaman sekarang polanya sama. Ada ambiguitas pada ekspektasi masyarakat dan inkonsistensi mereka. Komitmen untuk mengaplikasikan ekspektasi itu terkikis oleh kenyamanan semu dan keterlenaan oleh fatamorgana kenikmatan imitasi yang sesaat.  

Kita teriak "lingkungan bersih" tapi buang sampah sembarangan. Kita mau "anak sholeh" tapi orang tua kecanduan gadget. Kita mau "pemimpin amanah" tapi kita sendiri tidak amanah pada hal kecil.


Dari phenomena ini timbul beberapa pertanyaan ;


1. Mengapa masyarakat mudah berekspektasi tinggi tapi lemah dalam komitmen?
2. Bagaimana Al-Qur'an merekam pola penolakan umat terhadap utusan Tuhan?
3. Apa pelajaran dari Hijrah Nabi dan "Muhasabah" Nabi Yunus tentang dinamika dakwah?
4. Bagaimana pandangan Filsuf Barat dan Muslim tentang kehendak bebas vs fatalisme dalam membangun kesadaran?
5. Solusi apa yang bisa dilakukan lembaga pendidikan di era digital untuk membangkitkan kesadaran?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dilahirkan serta dicari jawabannya dengan beberapa indikasi yang urgen, diantaranya ;


Membangun kerangka berpikir bahwa perubahan tidak dimulai dari menunggu pembimbing, tapi dari membangkitkan kesadaran kolektif masyarakat itu sendiri sebagai a sign of love atau ibarat sedang menggelar karpet merah untuk pembimbing yang tiba.

Satu persatu kita urai beberapa mis-perseption kita sehingga timbulnya ambiguitas antara ekpektasi dan aplikasi yang inkonsisten pada manusia .
Kronologi Penolakan: Dari Nabi Yunus sampai Nabi Muhammad SAW.

Ketika diantara para Nabi ada yang meninggalkan mereka maka mereka mencap Nabi tersebut tidak berkompeten dan berdosa besar karena meninggalkan umatnya.  

Di Zaman sekarang, jika ada orang yang meninggalkan suatu kaum maka orang itu disuruh istighfar karena disamakan dengan Nabi Yunus as yang dituduh berdosa hingga dihukum dengan cara dikarantina di perut ikan Nun, padahal memang sengaja Allah ambil dan jaga kembali nabiNya di suatu tempat pingitan, maka ada istilah pada aliran kejawen dengan kata: Satrio piningit.

Dan malah sebenarnya yang mendapatkan takdir buruk justru umatnya yang menolak Nabi Yunus as. Nabi Yunus as sedang Allah selamatkan dari kaumnya yang membandel dengan disembunyikan di perut ikan untuk mempunyai _me time_ untuk muhasabah dan menaikkan tingkat ketaqwaan. Gua Hira kontemplasi-nya berupa perut ikan yang membawanya berkelana ke berbagai benua.  

Setelah umatnya sadar dan siap menerimanya barulah Allah kembalikan kepada umatnya³.  
Dari kronologis ini saja mestinya kita tidak menyalahkan Nabi Yunus as. Walaupun karena kebesaran dan kejernihan jiwanya Nabi Yunus as merasa bersalah.

Sama halnya dengan Hijrah Nabi Muhammad SAW. Jika bergeraknya seorang utusan Tuhan dari satu tempat yang umatnya susah didik ke suatu umat yang siap untuk dididik adalah sebuah kesalahan, apakah kita akan menyalahkan Nabi Muhammad SAW yang berhijrah dari tempat lahirnya ke Yatsrib yang kemudian diberi gelar _Madinah Munawwarah_?

Yatsrib dinamakan Madinah karena masyarakatnya memiliki kesadaran untuk ber _tamaddun_ -  (berperadaban). Jelas berbeda kondisi psikologis dan ideologis masyarakat Madinah dengan masyarakat yang berada di tempat lahir Nabi Yunus as dan juga masyarakat Mekkah yang  terlambat sadar. Sementara Yatsrib sebelum terkena azab sudah membentangkan karpet merah untuk utusan Tuhan.

Jadi Apa  Akar Masalah nya ?

Tiada lain diantaranya adalah karena  masyarakat sebelum Nabi Yunus  as hijrah, juga kafir Quraisy Mekkah, terlena oleh Kenikmatan Imitasi.
Ini bukan masalah sistem. Ini masalah jiwa yang tidak mau move on dari kejumudan sebagaimana Allah firmankan dalam surat Ar-ra'du ayat 11.


"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."⁵


Contohnya: 


1. *Lingkungan*: Komplain banjir, tapi malas jalan 5 langkah ke tong sampah.
2. *Kesehatan*: Mau sehat, tapi kalah sama "self reward" jajan online tiap malam.
3. *Spiritual*: Mau dekat Tuhan, tapi dzikir kalah sama scroll TikTok 2 jam.

Ini yang disebut "kenyamanan semu". Enak sesaat, tapi merusak jangka panjang. Kita sedang mabuk fatamorgana.


Padahal para filsuf terdahulu telah memberi penjelasan gamblang tentang hal ini ;
 
Timbangan Filsafat: Antara Kehendak Bebas dan Iman Dinamis

A. Filsuf Barat Anti-Determinisme

 
1. Jean-Paul Sartre : Manusia dikutuk untuk bebas. Kita bebas memilih menerima atau menolak pembimbing.
2.  Karl Popper : Masa depan terbuka. Nasib Niniwe berubah karena umatnya tobat. Tidak ada sejarah yang mutlak.
3. Friedrich Nietzsche : Masyarakat merindukan Übermensch. Tapi saat nilai luhur datang, mereka yang "membunuhnya" dengan menolak.

B. Filsuf Muslim Pro Iman + Dinamisme

 
1.  Ibnu Khaldun : Peradaban naik turun karena 'ashabiyah dan kesadaran kolektif. Madinah naik karena menerima.
2.  Muhammad Iqbal : Konsep Khudi. Jangan menunggu juru selamat. Jadilah Shaheen - elang yang terbang dengan kekuatan sendiri.
3. Buya Hamka : Kalau ingin mengubah bangsa, mulailah dari rumahmu. Hijrah adalah strategi pindah dari kejahilan menuju cahaya.


Stoik berkata "kendalikan dirimu". Islam berkata: "tabayyun dan mujahadah". Keduanya menolak jadi budak nyaman.

Hijrahnya SDM : Ketika Negeri Menolak Anak Kandungnya Sendiri

Sejarah mengulang dengan wajah berbeda. Pola "menolak saat diberi, menyalahkan saat ditinggal" tidak hanya terjadi pada Nabi. Ia juga terjadi pada anak bangsa. Era Bung Karno: Menyiapkan, Lalu Dicabut Akarnya.


Bung Karno punya mimpi besar : Berdiri di atas kaki sendiri. Maka dikirimlah ratusan anak bangsa ke Uni Soviet, Cekoslovakia, Tiongkok, Jerman Timur, Kuba. Tujuannya jelas: belajar nuklir, baja, penerbangan, pertanian. Untuk mengelola SDA sendiri.

Tapi setelah 1965 terjadi "kudeta politik". Rezim berganti, haluan negara berganti.  
Anak-anak yang baru pulang dari "Timur" langsung dicap: "kiri, PKI, Marhaen". Paspor dibekukan. Karir diputus. Sebagian dipenjara, sebagian memilih tidak pulang.

Contoh: para teknisi industri berat, pilot AURI yang handle MIG, ilmuwan nuklir, seniman Lekra seperti Pramoedya.


Mereka bukan lari. Mereka diusir oleh label.


Bangsa ini sedang mabuk. Mabuk oleh fatamorgana kenikmatan imitasi. Kita meniru gaya hidup, meniru sistem, meniru pembangunan tanpa ruh. Padahal Rasulullah SAW membangun Madinah bukan dengan meniru, tapi dengan membangkitkan kesadaran.  

Sejarah berulang. Dulu kaum Nabi menolak utusan. Sekarang sistem menolak SDM nya sendiri.  
Selalu muncul permasalahan yang jawabannya ditutup oleh kemalasan untuk berfikir dan bertanya-tanya;


1. Mengapa kesadaran masyarakat sulit dibangun?  
2. Bagaimana pola penolakan terhadap pembimbing terulang dari zaman Nabi sampai hari ini?  
3. Bagaimana hijrahnya SDM menjadi cermin kegagalan kita membangun "Yatsrib"?

 
Terlepas dari isue bahwa Dr.Hasan Tiro almarhum adalah "anak emas" Bung Karno lahir dari rahim bargaining position antara Bung Karno dengan Daud Beureum yang sakit hati karena merasa ditipu oleh janji-janji Bung Karno, yang jelas Bung Karno nampaknya sudah mempersiapkan SDM dengan menyekolahkan anak-anak bangsa ke manca negara untuk mengelola SDA negri ini.

Namun saat Orde Baru, para SDM itu tidak bisa kembali untuk membangun negri sebab dicap marhaenisme.

Ini bukan cerita baru. Ini pengulangan sejarah. Umat menolak utusan, lalu menyalahkan utusan saat pergi.


A. Siapa Saja "Anak Bangsa" yang Dikirim Bung Karno?

Selain Hasan Tiro, Bung Karno mengirim gelombang besar SDM tahun 1950-1965.
1.  Ilmuwan Teknik & Nuklir: Dikirim ke Uni Soviet, Cekoslovakia, Jerman Timur. Untuk PLTN, Baja Krakatau.
2.   Pilot & Perwira AURI : Dikirim ke Soviet untuk MIG-21, TU-16 era Trikora.  
3.   Dokter, Ahli Pertanian : Dikirim ke Tiongkok, Kuba. Program NASAKOM.  
4.   Seniman & Budayawan : Lewat Lekra. Contoh: Pramoedya Ananta Toer.  

Lalu kenapa tidak kembali?

 
Setelah 1965 terjadi pembersihan. Cap PKI/Marhaen. Paspor dicabut. Dipenjara. SDM untuk membangun, "diasingkan secara politik".

B. Era Sekarang: "Nabi Yunus" Versi Modern

Pada era saat ini, banyak anak bangsa yang memiliki potensi yang positif tapi tidak bisa diterima oleh rezim pemerintah sehingga mereka berkiprah di negara-negara tempat mereka berhijrah.

Lalu masyarakat mencap mereka tidak cinta tanah air, atau memberi label Nabi Yunus as yang lari dari tanggung jawab.

Padahal mereka pergi bukan karena lari. Mereka pergi karena tidak ada tempat.

C. Sebab Mereka Terhalang

 
1.  Birokrasi & Politik : Proyek tidak sejalan kepentingan 5 tahunan.  
2.  Labelisasi : Dulu "marhaen". Sekarang "tidak ekonomis".  
3.  Sistem Tidak Siap : Ingin hasil cepat. Padahal bangun peradaban butuh 1 generasi.  
4.  Ekonomi : Tidak ada industri hilir, tidak ada penghargaan.

 
Yatsrib jadi Madinah karena menggelar karpet merah untuk ilmu. Negeri ini akan terus kehilangan "anak emasnya" selama kita masih sibuk melabeli.

 
"Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."

Kesimpulan

1. Kesadaran tidak bisa diimpor. Harus dibangkitkan dari dalam.  
2. Pola menolak utusan/SDM adalah penyakit kronis bangsa ini.  
3. Solusinya bukan mencari "pahlawan", tapi membangun ekosistem Madinah.

Apa langkah kongkrit kita yang semestinya ?

1.  Hentikan politik label. Ganti dengan politik ruang.  
2.  Dana riset 5% APBN wajib untuk riset dasar 10-20 tahun.  
3.  Lindungi HAKI dan ciptakan industri hilir.  

Lalu apa  Solusi Praktis Membangun Kesadaran di Era Digital?

Era digital bukan musuh. Dia pisau. Bisa untuk menyembelih, bisa untuk memasak. Masalahnya bukan di HP nya, tapi di jari yang meng-scroll nya.

Kesadaran tidak akan bangkit dengan ceramah 2 jam yang orang tidur. Kesadaran bangkit dengan "tamparan halus" yang viral.

Tiga Langkah Konkret :

1. Kurasi Ulang Algoritma Pribadi : 1 jam scroll, 10 menit muhasabah. Tanya: "Apa yang baru saya pelajari dari HP hari ini?"
2. Gerakan #5Langkah : Sebelum komplain, lakukan 5 langkah kebaikan. Lihat sampah? Pungut. Lihat orang bingung? Tanya.
3. Edukasi Berbasis Rasa : Jangan ceramah. Buat orang "merasa". Karena manusia berubah bukan karena data, tapi karena tersentuh.

2.5 Rekomendasi Program: Lomba Video Singkat "Tanpa Kata, Penuh Makna"
Lembaga pendidikan harus berhenti jadi pabrik nilai. Jadilah pabrik kesadaran.

Ide Program:
Nama : LOMBA VIDEO BISU: BAHASA KESADARAN 
Konsep : Mahasiswa/siswa membuat video durasi 60-90 detik. *Tanpa dialog, tanpa kata-kata.* Hanya visual + musik. Isinya: arahan hidup bermasyarakat yang berkesadaran positif.

Contoh tema:
1.  "5 Langkah ke Tong Sampah" : Visual orang jalan jauh buat buang sampah vs buang sembarangan. Ending: bumi tersenyum.
2.  "Gadget vs Sajadah" : Split screen. Kiri: scroll 2 jam. Kanan: sholat 5 menit. Ending: wajah mana yang lebih tenang?
3.  "Karpet Merah untuk Kebaikan" : Visual analogi Yatsrib menyambut. Siswa menyambut guru, menyambut adik, menyambut ide baik.

Tujuan : Melatih empati visual. Memaksa pembuat dan penonton berpikir, bukan hanya mendengar. Pemenang diputar di tiap upacara, di grup WA RT, di layar sekolah.

Karena dakwah hari ini bukan lagi "berisik", tapi "menyentuh".

Kesimpulan

1. Keterpurukan umat bukan karena kurangnya utusan, tapi karena penyakit "menolak saat diberi, menyalahkan saat ditinggal".
2. Kepergian seorang pembimbing seperti Nabi Yunus dan Hijrah Nabi Muhammad bukanlah dosa. Itu adalah pendidikan Tuhan agar umat sadar dan siap.
3. Membangun kesadaran berarti melawan fatamorgana kenikmatan imitasi. Kembali pada QS. Al-Hujurat: 6 dan perkataan Imam Ghazali: "Cukuplah seseorang dikatakan pendusta jika ia menceritakan segala sesuatu yang ia dengar."⁶
4. Peradaban Madinah hanya lahir dari masyarakat yang tamaddun_- punya kesadaran sebelum dijemput cahaya.
5. Di era digital, kesadaran dibangun lewat aksi kecil, konsisten, dan media yang menyentuh rasa, bukan hanya logika.

Ada sebuah vidio viral tentang

Joshua Bell

Pemain biola klasik paling top di dunia. Pemenang Grammy, pernah main bareng orkestra dunia, 1x main bisa dibayar ratusan juta.

Sumber Kisahnya adalah


Dari eksperimen sosial Washington Post tahun 2007 berjudul :  
"Pearls Before Breakfast: Can One of the Nation's Great Musicians Cut Through the Fog of a D.C. Rush Hour?" 
Penulisnya: Gene Weingarten → artikel ini dapat *Pulitzer Prize 2008*

Kronologinya:

1.  Sehari sebelumnya: Joshua Bell konser di Boston, tiket sold out, 1 kursi $100. Tepuk tangan 10 menit.
2.  Hari H : Dia pakai topi, baju biasa, bawa biola Stradivarius $3.5 Juta. Main di stasiun Metro Washington DC jam 7:30 pagi, jam orang buru-buru kerja.
    Dia main 6 lagu Bach selama 43 menit.
3.  Hasilnya : Dari 1097 orang yang lewat, cuma 7 orang yang berhenti dengar. Dia dapat *$32.17* recehan.
    Ada 1 anak kecil mau berhenti, tapi ibunya narik terus.

Video eksperimennya kemudian viral dimana-mana sebagai pelajaran:  
"A right man in a wrong place" / "Kita sering tidak menghargai keindahan kalau datang di waktu dan tempat yang salah"

Pelajaran yang nyambung sama makalah Guru:
Persis sama tema Sub-bab 2.6 kita Guru.
SDM Hebat + di tempat yang salah + di waktu yang salah = dapatnya recehan 
SDM Hebat + di tempat yang benar = dapatnya miliaran

Joshua Bell bukan "Nabi Yunus yang lari". Dia cuma diuji di "Niniwe" yang buru-buru.  
Begitu juga para ilmuwan kita. Bukan mereka jelek. Tapi kita yang buru-buru dan tidak berhenti sejenak untuk mendengar.

Mari kita berhenti menunggu Superman. Mari kita jadi Madinah dulu.  
Karena Tuhan tidak akan menurunkan cahaya ke tempat yang menolak lampu.
Membangkitkan kesadaran bahwa peradaban tidak dibangun dengan impor, tapi dengan memuliakan anak kandung sendiri. Kita punya Konsep Kesadaran dalam Islam
Kesadaran adalah yaqozah. Bangun dari tidur panjang. QS. Al-Anfal: 24

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur'an
1.  QS. Al-Baqarah: 61
2.  QS. Ash-Shaffat: 139-144  
3.  QS. Ash-Shaffat: 148
4.  QS. Al-Anfal: 30, QS. At-Taubah: 40
5.  QS. Ar-Ra'd: 11
6.  QS. Al-Hujurat: 6

Buku & Pemikiran
1.  Hamka, Buya. Tafsir Al-Azhar. Jakarta: Pustaka Panjimas.
2.  Ibnu Khaldun. Muqaddimah. Terj. Ahmadie Thoha. Jakarta: Pustaka Firdaus.
3.  Iqbal, Muhammad. The Reconstruction of Religious Thought in Islam. Lahore: Iqbal Academy.
4.  Sartre, Jean-Paul. Being and Nothingness. Terj. Hazel Barnes.
5.  Popper, Karl. The Open Society and Its Enemies. London: Routledge.
6.  Al-Ghazali. Ihya Ulumuddin. Beirut: Dar Al-Ma'rifah.