Menagih Jiwa Jogja dari Rantau: Catatan Pinggir dari Alun-Alun Pikiran IKAJO Sulsel
By Admin

Oleh : Egha
nusakini.com, Aroma kuah coto yang gurih dan pekat mendadak menguap di sela-sela tiang kayu Bulaksumur, berbaur dengan manisnya wedang ronde yang menghangatkan malam Yogyakarta. Pekan ini, di bawah langit Wisma Kagama, kita menyaksikan sebuah ritual yang karib: berkumpulnya ratusan manusia asal Sulawesi Selatan yang pernah menyusu pada payudara intelektual Kota Pelajar. Mereka datang membawa tawa yang lepas, pelukan yang erat, sekeranjang rindu yang tumpah dan riuh-rendah dunia kerja yang mekanis.
Namun, mari kita duduk sejenak di selasar budi yang teduh, menjauh sejenak dari riuh-rendah denting sendok jamuan malam atau dinamika pemilihan pengurus baru Ikatan Keluarga Alumni Jogja Sulawesi Selatan (IKAJO). Pertemuan yang indah ini tentu menyimpan harapan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar lembaran foto bersama atau ruang bertukar nomor WA.
Sungguh sayang rasanya jika hakikat pendidikan kita terhenti di sana. Sebab, Yogyakarta bukanlah sekadar romansa kamar kos-asrama yang bersahaja, perjuangan sebungkus nasi kucing di angkringan, atau selembar ijazah. Jogja adalah sebuah proses pengasuhan jiwa, yang selalu memanggil kita untuk kembali pulang pada nilai-nilai kemanusiaan yang tulus.
Ada sebuah gugatan sosiologis yang musti diletakkan di alun-alun pikiran kita: Setelah kita mereguk habis sari pati humanisme Jogja, apa yang tersisa di dalam dada kita saat kembali ke tanah rantau?
Yogyakarta yang kita kenal—atau yang seharusnya kita serap—bukanlah sekadar koordinat geografis di peta Pulau Jawa. Jogja adalah sebuah "Mazhab Kehidupan". Ia adalah ruang kultural di mana seorang anak petani dari pesisir Jeneponto atau pemuda gunung dari Toraja duduk bersila di atas tikar yang sama dengan anak pejabat, tanpa sekat, tanpa rasa rendah diri. Di kota inilah kita dahulu diajari secara organik tentang apa itu tepa selira, sebuah kelenturan jiwa untuk mendengarkan yang lain, dan sebuah keberanian untuk hidup bersahaja.
Mari kita panggil kembali ingatan kolektif tentang Bugisan. Kawasan di barat daya Kraton itu bukanlah hadiah birokrasi modern. Ia adalah prasasti hidup dari abad ke-18, ketika para pelaut tangguh Celebes tak hanya merapatkan kapal, tetapi juga merapatkan batin mereka dengan takdir Mataram. Leluhur kita bertaruh nyawa dan menyerahkan kesetiaan bukan demi selembar kertas kontrak kerja, melainkan karena ada rasa saling percaya (trust) yang tumbuh di antara dua kebudayaan yang berbeda. Hubungan itu egaliter, organik, dan spiritual.
Kini, para alumni IKAJO telah bertransformasi menjadi birokrat, politisi, akademisi, dan pengusaha yang memegang kendali di berbagai lini sektor publik. Mereka adalah "kaum terpelajar" dalam definisi gramatikal. Namun, di tengah realitas sosial hari ini—di mana korupsi masih menggrogoti sendi bangsa, kebijakan publik kerap berpihak pada pemilik modal, dan sekat-sekat primordialisme kerap dipolitisasi—di manakah "Jiwa Jogja" itu kita simpan?
Menagih Jiwa Jogja dari rantau berarti menolak lupa pada watak kerakyatan yang pernah kita hirup di pinggir-pinggir jalan Malioboro atau di bawah rindang beringin alun-alun. Sangatlah naif jika seorang alumni Jogja, ketika memegang kekuasaan di daerahnya, justru berubah menjadi penguasa yang bebal, feodal, dan berjarak dari rakyat kecil. Menagih Jiwa Jogja berarti menuntut agar kelulusan kita dari kota ini mewujud dalam bentuk keberpihakan pada mereka yang lemah, yang tersisih, dan yang tak punya suara—mereka yang oleh Romo Mangun sebut sebagai kaum wong cilik.
IKAJO tidak boleh mandek menjadi sekadar "paguyuban kangen-kangenan". Organisasi ini harus menjadi sebuah think-tank moral dan kultural. Kekayaan jaringan ini—yang merentang dari keahlian hukum Prof. Uceng hingga kedalaman literasi budaya Prof. Nurdin Laugu—adalah modal sosial yang teramat mewah jika hanya dihabiskan untuk urusan domestik internal organisasi. Jaringan ini harus mampu menjadi jembatan yang mengalirkan arus pemikiran segar, toleransi yang membumi, dan etos kerja yang berintegritas dari Jogja menuju pembangunan Sulawesi Selatan dan kawasan Indonesia lainnya.
Gala dinner telah usai, lampu-lampu Wisma Kagama mungkin mulai dipadamkan satu per satu, dan para alumni akan segera kembali naik ke burung besi menuju pelabuhan hidup masing-masing. Namun, selamanya angin Mataram akan terus berbisik mengejar mereka ke tanah rantau, menagih janji yang tak tertulis:
Kau telah mengambil ilmu dan rasa dari tanah ini, lalu, apa yang sudah kau perbuat untuk kemanusiaan di tanahmu sendiri?