Merawat Pertiwi atau Mengkhianatinya: Catatan Kader Muda atas Pesan Megawati

By Admin


Oleh: Angga Nugraha (Kader Muda PDI-P)

nusakini.com, - Di tengah krisis ekologis, ketimpangan sosial, dan praktik kekuasaan yang makin menjauh dari rakyat, pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri tentang merawat Pertiwi patut dibaca sebagai peringatan politik. Kekuasaan yang tercerabut dari nilai, sejarah, dan keberpihakan pada alam pada akhirnya hanya akan melahirkan pengkhianatan—bukan sekadar pada ideologi, tetapi pada tanah air itu sendiri.

Sebagai kader muda PDI Perjuangan, saya membaca pesan ini dengan kegelisahan. Sebab pilihan itu nyata dan mendesak: merawat Pertiwi atau mengkhianatinya.

Ibu Megawati berulang kali mengajak bangsa ini kembali ke akar. Bukan untuk bernostalgia, melainkan untuk eling—sadar akan asal-usul dan tujuan. Bung Karno telah meletakkan dasar bernegara melalui Pancasila, gotong royong, dan keberpihakan pada rakyat kecil. Tanpa kesadaran itu, kekuasaan mudah keblinger: alam direduksi menjadi komoditas, ilmu kehilangan nurani, dan jabatan berubah menjadi alat memperkaya diri.

Kegelisahan semacam ini sejatinya telah lama dibaca dalam kearifan Nusantara. Salah satunya melalui Wangsit Siliwangi yang menyinggung hadirnya sosok budak janggotan, simbol pemuda sederhana yang datang di masa gelap untuk mengingatkan, namun kerap diabaikan:

“Ti dinya budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyoren keneron butut, ngageuingkeun nu kasasar, ngelingan nu keur paroho. Tapi heunteu diwararo! Dapinterna kabalinger, hayang meunang sorangan.”

Petikan ini terasa relevan hari ini. Banyak suara yang mengingatkan justru disingkirkan. Banyak kepintaran kehilangan kebijaksanaan. Hasrat menang sendiri lebih dominan daripada kepentingan bersama.

Dalam tafsir kebudayaan, Bung Karno kerap dipahami sebagai Satrio Kinunjoro Murwo Kuncoro, pembuka jalan di masa peralihan. Sementara Megawati hadir sebagai Satrio Hamong Tuwuh—penjaga dan perawat nilai-nilai dasar bangsa di tengah godaan pragmatisme kekuasaan. Sikap ini tampak jelas dalam Rakernas I PDI Perjuangan, ketika Megawati menegaskan bahwa alam tidak boleh dieksploitasi demi kekayaan segelintir orang dan ilmu harus diabdikan untuk rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi.

Pesan itu sederhana, tetapi menuntut keberanian moral. Loyalitas pada ajaran Bung Karno bukan slogan, melainkan laku hidup: melayani, bukan menguasai; berpihak, bukan memanfaatkan; menjaga Pertiwi sebagai ruang hidup bersama.

Di tengah krisis hari ini, pesan merawat Pertiwi adalah cermin bagi para elite dan mereka yang merasa pintar. Apakah kekuasaan masih dijalankan sebagai amanah, atau telah berubah menjadi pengkhianatan yang dilegalkan?

Sejarah selalu mencatat dengan jujur. Bangsa ini tidak runtuh karena kekurangan sumber daya, melainkan karena kehilangan kesadaran. Karena lupa eling. Dan bagi kami, kader-kader muda, pesan Megawati adalah pengingat tegas: masa depan Indonesia ditentukan oleh kesetiaan kita merawat Pertiwi, bukan oleh kerakusan menguasainya. (*)