Pasokan Melimpah Tekan Harga Nikel, PT Vale Indonesia Siapkan Strategi Khusus

By Admin


Ilustrasi Tambang Nikel

nusakini.com, Pimpinan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memaparkan proyeksi bisnis komoditas tambang dalam acara Pubex Live pada Kamis (10/9/2026). Perusahaan mencatat bahwa peningkatan drastis volume nikel domestik justru diduga menjadi batu sandungan bagi stabilitas harga di pasar global.

Presiden Direktur sekaligus CEO Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menyoroti dinamika fluktuasi nilai jual yang memengaruhi iklim industri saat ini. "Dalam jangka pendek, kita melihat supply growth, terutama dari Indonesia, dan volatilitas harga menjadi tantangan," ungkapnya menegaskan kondisi tersebut.

Pemerintah Republik Indonesia dikabarkan sedang mengambil langkah intervensi guna menekan laju produksi yang dinilai berlebihan. Hal ini bertujuan agar margin keuntungan para produsen tidak semakin terkikis oleh kejatuhan harga komoditas di bursa internasional.

Sebagai informasi, bursa London Metal Exchange (LME) mencatat nilai transaksi nikel berada di angka US$16.666 per ton pada penutupan hari ini. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 1,37 persen yang diyakini dipicu oleh sentimen negatif terkait melimpahnya ketersediaan pasokan.

Selain masalah harga jual produk akhir, INCO juga harus memutar otak menghadapi lonjakan biaya bahan baku operasional. Harga sulfur dan asam sulfat yang melambung tinggi diduga kuat memberikan tekanan tersendiri bagi fasilitas pemurnian berteknologi tinggi milik perseroan.

Cadangan belerang perusahaan diproyeksikan hanya mampu bertahan memenuhi kebutuhan operasional paling lama hingga kuartal ketiga tahun ini. "Kalau terdampak, kemungkinan pada kuartal IV dan kita harus mengantisipasi untuk 2027," papar Bernardus memberikan estimasi kerawanan pasokan.

Menyikapi tantangan ganda tersebut, manajemen mulai merancang strategi alternatif melalui pengujian material pirit sebagai bahan pengganti. Perseroan juga mematangkan rencana pendirian fasilitas produksi asam sulfat mandiri di wilayah Pomalaa agar ongkos produksi tetap efisien. (*)