Respons Lonjakan Harga Global, ESDM Longgarkan Batas Ekstraksi Batu Bara
By Admin

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia
nusakini.com, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menetapkan kebijakan relaksasi produksi batu bara pada Selasa (20/10/2026). Langkah strategis ini diambil menyusul tren kenaikan harga komoditas energi tersebut di pasar global.
Kebijakan pelonggaran ini dipastikan akan mendongkrak volume produksi melampaui target awal Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 yang tadinya dipatok sebesar 600 juta ton. Keputusan penting tersebut disepakati langsung oleh jajaran kabinet setelah menggelar rapat terbatas di Istana Negara.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, membenarkan adanya pelonggaran batas ekstraksi tambang ini. Pihaknya terus mengamati pergerakan harga batu bara, khususnya untuk tipe 6.330 kcal/kg GAR yang kini bertengger di angka US$154 per ton.
Bahlil menyebut momentum harga tinggi di pasar internasional ini harus dimanfaatkan dengan cermat untuk menjaga keseimbangan pasar global. "Dan sekarang ini mencapai US$154 per ton untuk kalori 6.330, dan harapan kita memang harganya bagus, produksinya kita naikkan, dan sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand," jelas Bahlil.
Peningkatan kapasitas produksi ini juga sangat diharapkan mampu membawa dampak positif bagi ketahanan finansial kas negara. "Tapi kita juga ingin untuk dalam waktu dekat, kita ingin sekali untuk bagaimana devisa kita bisa masuk," tambah Bahlil.
Pernyataan senada mengenai perubahan target sebelumnya juga telah dilontarkan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, pada Jumat (16/10/2026) di Jakarta. Tri mengonfirmasi bahwa usulan revisi RKAB 2026 untuk komoditas batu bara dan nikel telah resmi dikabulkan oleh kementerian.
Berdasarkan draf revisi terbaru tersebut, proyeksi hasil tambang batu bara nasional diperkirakan melonjak tajam hingga mencapai 700 juta ton. Sementara itu, untuk komoditas nikel ditargetkan mengalami penyesuaian produksi di kisaran 290 juta ton pada tahun yang sama.
Pihak kementerian sangat optimistis bahwa seluruh tahapan proses ekstraksi pascarevisi ini akan berjalan lancar di lapangan tanpa kendala berarti. "Mudah-mudahan nggak ada hambatan untuk produksi dan lain sebagainya," pungkas Tri Winarno. (*)