Ribuan Aktor Keagamaan Kemenag Dilatih Cara Berkomunikasi di Era Digital

By Admin


Sesditjen Bimas Islam Lubenah

nusakini.com, Jakarta -- Kementerian Agama memberikan pelatihan kepada ribuan aktor keagamaan tentang cara berkomunikasi di era digital. Pelatihan ini dikemas dalam program Speak to Change for Aktor Bimas Islam.

Pelatihan diberikan di sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ditjen Bimas Islam Tahun 2026. Program ini menyasar penyuluh agama, dai, penghulu, amil, nazir, kepala KUA, hingga pejabat struktural Bimas Islam. Fokusnya pada peningkatan kapasitas komunikasi, kepemimpinan, dan pelayanan publik agar layanan keagamaan lebih berdampak dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Sekretaris Ditjen Bimas Islam, Lubenah, mengatakan aktor Bimas Islam merupakan wajah layanan keagamaan yang berinteraksi langsung dengan masyarakat. Karena itu, penguatan kapasitas personal dan komunikasi menjadi kunci dalam menyampaikan pesan keagamaan secara efektif.

“Aktor Bimas Islam bukan hanya pelaksana kebijakan, tetapi representasi layanan keagamaan di tengah masyarakat. Mereka harus memiliki kapasitas personal, konten, dan cara penyampaian yang kuat agar pesan keagamaan sampai dan berdampak,” ujar Lubenah saat Rakernas Ditjen Bimas Islam 2026 di Jakarta, Jumat (23/1/2026).

Speak to Change dirancang sebagai respons atas perubahan sosial yang cepat, dinamika keumatan, serta tuntutan masyarakat terhadap layanan keagamaan yang profesional. Ia menegaskan, penguatan komunikasi tidak kalah penting dibandingkan penguatan substansi kebijakan. “Pelayanan keagamaan hari ini menuntut aktor yang adaptif, percaya diri, dan mampu membangun kepercayaan publik,” katanya.

Program ini digelar secara hybrid dan diikuti lebih dari 10.000 peserta dari seluruh Indonesia. Peserta terbagi ke dalam 10 ruang pembelajaran daring, serta didukung sesi luring yang diikuti ratusan peserta dari berbagai satuan kerja Bimas Islam. Skema ini memungkinkan proses pembelajaran berlangsung secara masif dan merata.

Materi Speak to Change disusun berdasarkan tiga pilar utama, yaitu personal, konten, dan delivery. Pilar personal menekankan pentingnya tujuan mulia dalam bekerja, pengembangan growth mindset, serta penguatan kepercayaan diri aparatur.

Pilar konten diarahkan pada kemampuan menyusun pesan keagamaan dan layanan publik yang mudah dipahami, kontekstual, dan solutif. Peserta dibekali kerangka penyusunan pesan yang sistematis, mulai dari alasan, definisi, langkah praktis, hingga ajakan bertindak. Sementara itu, pilar delivery menitikberatkan pada keterampilan menyampaikan pesan secara humanis, persuasif, dan berdampak.

Speak to Change melibatkan para trainer dan praktisi komunikasi dari Akademi Trainer yang berpengalaman di bidang kepemimpinan, public speaking, storytelling, dan pengembangan sumber daya manusia. Materi disusun untuk menjawab kebutuhan riil aktor Bimas Islam di tingkat akar rumput.

“Kapasitas personal dan komunikasi yang baik akan memperbesar dampak program Bimas Islam, mulai dari dakwah, bimbingan perkawinan, layanan KUA, hingga pengelolaan zakat dan wakaf,” ujar Lubenah.

“Dengan pendekatan ini, kami optimistis kapasitas aktor keagamaan akan menjadi fondasi layanan keagamaan yang berdampak, berkelanjutan, dan selaras dengan moderasi beragama,” pungkasnya. (*)