Rupiah Tertekan ke Rp18.150, Kebijakan Suku Bunga BI Jadi Sorotan
By Admin

Ilustrasi Rupiah
nusakini.com, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Senin (2/11/2026). Mata uang Garuda ini bertengger pada level Rp18.150 per dolar AS atau turun sebesar 0,13 persen.
Posisi penutupan ini sedikit lebih baik dibandingkan pergerakan harian yang sempat menyentuh angka Rp18.164 per dolar AS. Pelemahan ini diyakini berkaitan dengan keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen.
Selain kebijakan moneter domestik, tekanan dari pasar global turut memperberat laju mata uang nasional. Rencana MSCI yang mempertimbangkan reklasifikasi pasar Indonesia menjadi pasar yang berdiri sendiri memicu memburuknya persepsi risiko di kalangan investor.
Arus keluar modal di pasar obligasi pemerintah semakin menambah beban pergerakan nilai tukar saat ini. Hal ini terlihat dari pergerakan imbal hasil obligasi tenor 10 tahun yang merangkak naik hingga menyentuh angka 7,77 persen.
Dari sisi makroekonomi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi bulanan sedikit melambat meski secara tahunan masih berada di angka 3,23 persen pada Oktober 2026. Tekanan harga pada sektor pangan dan energi diperkirakan belum sepenuhnya mereda dalam waktu dekat.
Ekonom Bloomberg Economics, Tamara Henderson, memproyeksikan inflasi berpotensi menembus batas atas target pada akhir tahun ini. "Harga minyak yang masih tinggi akibat perang Iran juga akan terus merambat melalui rantai pasok global, sehingga mendorong kenaikan harga barang dan jasa dalam komponen inflasi inti," ujar Henderson.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal ketiga 2026 diprediksi melambat menjadi 5,17 persen. Prediksi konsensus ini tercatat lebih rendah dari pencapaian pada kuartal sebelumnya yang mampu menembus angka 5,29 persen. (*)