Surat Terbuka Goenawan Mohamad untuk Nadiem Makarim

By Admin


nusakini.com, Sastrawan dan pendiri Tempo, Goenawan Mohamad, menulis surat terbuka kepada Nadiem Makarim yang kini menunggu persidangan atas tuduhan korupsi. Surat tersebut menyedot perhatian publik karena tidak berisi pembelaan hukum, melainkan refleksi etika dan sejarah tentang keadilan di Indonesia.

Goenawan mengawali suratnya dengan nada personal. Ia mengaku kecewa dan marah mengetahui Nadiem berada dalam tahanan, namun menegaskan bahwa tuduhan hukum tidak serta-merta menghapus kepercayaan publik. Ia mengutip pepatah Jawa becik ketitik, ala ketara—yang baik dan buruk akan tampak pada waktunya.

Alih-alih mengulas perkara, Goenawan mengenang perjumpaannya dengan Nadiem seusai lulus dari Harvard, ketika Nadiem datang dengan keinginan berbuat sesuatu bagi Indonesia. Ia juga menyinggung kedekatannya dengan Nono Anwar Makarim, ayah Nadiem, serta lingkaran intelektual dan aktivisme era 1960-an yang disatukan oleh komitmen pada Indonesia yang adil dan bersih.

Goenawan mengingat masa represif pasca-1965, ketika hukum kerap menjadi alat kekuasaan. Dalam konteks itu, ia menilai hukum dan keadilan tidak selalu berjalan seiring. Ia menyebut Nono Anwar sebagai sosok yang konsisten menyuarakan antikorupsi, serta menyinggung peran Atika Makarim dalam gerakan masyarakat sipil.

Surat tersebut ditutup dengan refleksi filosofis bahwa keadilan adalah perjuangan yang tak pernah selesai. Goenawan menegaskan surat itu bukan pembelaan yuridis, melainkan kesaksian moral.

Sementara proses hukum terhadap Nadiem berjalan, surat Goenawan menempatkan perkara itu dalam ruang yang lebih luas—sejarah, etika, dan harapan bahwa keadilan tetap layak diperjuangkan. (*)