Cara Riset Pasar untuk Siswa SMK agar Bisnis Laris Manis

By Admin


Ahmad Madani di lokakarya kewirausahaan di SMK Negeri 46 Jakarta

nusakini.com, Praktisi pemasaran Ahmad Madani menekankan pentingnya riset pasar bagi siswa vokasi dalam merintis usaha. Hal tersebut disampaikan saat menjadi pembicara dalam lokakarya kewirausahaan di SMK Negeri 46 Jakarta pada Senin, 24 Agustus 2026.

Kegiatan akademik ini bertujuan melatih para siswa agar mampu memetakan kebutuhan konsumen sebelum meluncurkan barang dagangan. Menurut Madani, kesalahan umum wirausahawan pemula adalah langsung memproduksi barang tanpa mengukur relevansinya dengan pembeli.

"Produk yang bagus menurut kita belum tentu bernilai bagi pelanggan, sehingga pasar tidak hanya bertanya apakah produknya bagus tetapi apakah relevan dengan kebutuhan mereka," kata Madani. Pemahaman mengenai permasalahan konsumen dinilai lebih krusial dibandingkan sekadar merancang logo atau kemasan.

Dalam pemaparannya, Madani mencontohkan kasus simulasi kedai Kopi Gen-Z yang sepi pembeli akibat harga tidak sesuai uang saku sasaran pasar. Penjual mematok harga lima belas ribu rupiah, padahal rata-rata daya beli teman sekolah mereka hanya sepuluh ribu rupiah.

Kepala SMK Negeri 46 Jakarta, Osda Ida Perida Manurung, menyambut baik penyelenggaraan agenda edukasi bisnis ini. Institusinya berharap para murid dapat menjadi individu yang lebih peka terhadap dinamika persoalan di lingkungan sekitarnya.

"Kami ingin murid tidak hanya kreatif membuat produk, tetapi juga mampu memahami siapa yang membutuhkan produk tersebut dan manfaat apa yang dapat diberikan," ujar Osda. Pendekatan riset ini dipercaya bisa menajamkan daya kritis siswa saat mulai mengelola bisnis nyata.

Wakil Kepala Bidang Kerja Sama SMK Negeri 46 Jakarta, Sugiyono, menambahkan bahwa sinergi bersama ahli dari luar sekolah sangat bermanfaat. Siswa mendapatkan pandangan langsung mengenai praktik bisnis mutakhir yang sepenuhnya bertumpu pada analisis data.

"Melalui kolaborasi ini, murid belajar bahwa keputusan bisnis perlu didasarkan pada data dan kebutuhan pelanggan," ucap Sugiyono. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membekali siswa dengan kompetensi penyelesaian masalah alih-alih sekadar menjadi pembuat barang.

Pujian dari orang terdekat sering kali menipu para pengusaha muda jika tidak dibarengi bukti transaksi faktual. Oleh karena itu, Madani menyarankan agar pengujian pasar berpatokan pada aksi nyata seperti pesanan awal atau pembayaran uang muka.

"Bisnis tidak dibangun dari pujian, melainkan dari masalah nyata, pelanggan nyata, solusi nyata, dan transaksi nyata," tegas Madani menutup sesinya. Ia berpesan agar generasi muda lebih mencintai penyelesaian masalah ketimbang sekadar menyukai produk buatan sendiri. (*)