Di Balik Janji Palsu Liburan, Nestapa Ibu dan Anak Berakhir dalam Sunyi
By Admin

Ilustrasi
nusakini.com, Penantian panjang sebuah keluarga asal Megamendung, Bogor, belakangan ini harus berujung pada kenyataan yang amat mengiris hati. Anak dan cucu perempuan yang mereka harapkan pulang dengan selamat justru diduga menjadi korban kekerasan ekstrem oleh orang terdekatnya sendiri.
Rasa duka keluarga semakin mendalam ketika menyadari bahwa sang suami siri sebelumnya sempat bermain sandiwara dengan berpura-pura ikut mencari keberadaan korban. Pria tersebut bahkan tanpa ragu mendampingi pihak keluarga untuk melaporkan orang hilang ke kantor polisi setempat di tengah proses pencarian yang masih berjalan.
Mimpi sederhana seorang ibu dan anak balitanya untuk menikmati pesona alam di sebuah telaga terpaksa kandas menjadi tragedi kelam. "Motifnya kemungkinan masalah dendam," ungkap Direktur Ditreskrimum Polda Jatim Kombes Roy H M Sihombing saat merunut kembali pemicu batalnya rencana liburan tersebut.
Kekecewaan korban diduga memuncak saat mengetahui pasangannya ternyata lebih memilih menjemput istri sahnya di stasiun ketimbang menepati janji. "Jadi, akibat dari kecemburuan itu terjadi percekcokan mulut antara si korban dengan si atau juga pelaku," ucap Roy menjabarkan awal mula petaka di sebuah kamar hotel.
Lebih menyayat hati lagi, nasib balita yang tidak mengerti apa-apa ikut terenggut dalam dinginnya kabin mobil yang seharusnya menjadi tempat aman baginya. "Anaknya sendiri pun diperlakukan yang sama tapi beda tempat, di dalam mobil," tutur Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Arbaridi Jumhur.
Guna menutupi jejak kejahatannya, terduga pelaku menggunakan cara yang sangat tidak lazim dengan memusnahkan sisa-sisa jasad di lingkungan rumahnya. Tindakan pemusnahan secara berlapis ini seakan menunjukkan betapa gelapnya mata sang pelaku saat mencoba lari dari bayang-bayang jerat hukum.
Meskipun tersangka sempat dilepaskan pada awal penyelidikan, kegigihan tim kepolisian akhirnya berhasil mengunci pergerakan pria itu melalui temuan forensik dan rekaman kamera pengawas. "Satu bulan yang lalu berhasil kita ungkap, ternyata satu bulan hilang itu akibat tindak pidana pembunuhan," kata Jumhur menegaskan titik terang penyidikan tersebut.
Kini, pria yang tangannya telah terborgol ke belakang itu harus menghadapi proses hukum atas perbuatannya yang menghancurkan sebuah keluarga kecil. Publik hanya bisa bersimpati sekaligus menanti proses peradilan agar kelak mampu memberikan keadilan seadil-adilnya bagi dua jiwa yang telah pergi selamanya. (*)