Ya Tutu Ya Upe, Ya Capa Ya Cilaka

By Admin


Oleh : Egha

nusakini.com, Sejak kecil, saya sering mendengar satu petuah dari nenek saya, seorang perempuan Bugis yang ucapannya tenang tapi menancap dalam:

"Ya tutu ya upe, ya capa ya cilaka."
Siapa yang berhati-hati akan beruntung. Siapa yang ceroboh, akan celaka.

Waktu kecil, saya menafsirkan itu dengan polos. Artinya sederhana: kalau kita hati-hati, kita akan selamat; kalau sembrono, kita akan celaka.
Seperti saat naik motor—harus pelan, jangan ngebut. Kalau sudah hati-hati, pasti selamat. Kalau lalai, bisa kecelakaan.

Tapi di satu titik, saya mulai berpikir lebih dalam:
"Bagaimana kalau saya sudah hati-hati, tapi tetap celaka? Di mana letak keberuntungannya?"

Dari situ saya mulai paham, bahwa petuah nenek saya bukan cuma nasihat lalu lintas. Bukan cuma tentang perjalanan fisik, tapi perjalanan hidup.

Saya mulai membaca ulang kalimat itu, dalam hati saya sendiri.
Dan saya temukan makna baru:


Bahwa “tutu” berarti menjaga diri, menanam kebaikan, berlaku jujur, berbicara sopan, bekerja dengan niat yang bersih.
Artinya, kita akan menuai hasil dari apa yang kita tanam dalam sikap dan tindakan kita sehari-hari.

Tapi pemahaman itu terus tumbuh.
Lambat laun saya sampai pada kesadaran baru:
Bahwa “tutu” bukan hanya soal etika, tapi juga spiritualitas.
Tutu adalah kesadaran. Tutu adalah eling—sebuah ingatan yang terus-menerus pada Tuhan.
Bahwa setiap langkah hidup harus dilakukan dalam keadaan sadar bahwa Allah hadir dan menyaksikan.

Di titik ini, saya mulai mengerti bahwa keberuntungan bukan selalu tentang hasil yang kelihatan.
Keberuntungan sejati adalah ketika hidup dijalani dalam keadaan sadar, dalam niat yang tertuju kepada-Nya.
Dan dalam keadaan seperti itu, apapun yang menimpa kita—bahkan luka, kehilangan, atau kegagalan—akan tetap bermakna.
Karena kita tahu, kita menanam sesuatu di hadapan Allah.

Saya teringat satu ayat Al-Qur’an yang tiba-tiba terasa sangat dekat:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, bahwa mereka itu mati. Mereka hidup, hanya saja kamu tidak menyadarinya.”
(QS. Al-Baqarah: 154)

Ayat ini seperti menjawab kegelisahan saya.
Bahwa mereka yang hidup dalam tutu—dalam eling kepada Allah—tidak pernah benar-benar celaka, tidak pernah benar-benar mati.
Hidup mereka terus berbuah, meski tak semua orang bisa melihatnya.

Lalu saya pun bertanya dalam hati, mungkin dengan senyum kecil:
Apakah petuah nenek saya ini adalah tafsir ringkas orang Bugis terhadap ayat Al-Qur’an itu?
Tafsir yang tidak dibukukan, tapi diwariskan lewat lisan, lewat kehidupan sehari-hari?

Saya percaya, bisa jadi memang begitu.
Karena tidak semua hikmah lahir di mimbar pengajian.
Sebagian muncul dari suara nenek di dapur, dari cara ibu membelai jelang tidur atau cara diam seorang ayah ketika marah.

Kini, setiap kali saya merasa letih atau ragu, saya kembali pada kalimat itu:
"Ya tutu ya upe."
Saya tanam apa yang saya bisa—dengan hati yang sadar, dengan ingatan pada Tuhan.
Dan saya percaya, apa pun yang saya tuai nanti,
itu bukan hasil dunia semata, tapi buah dari hidup yang dijalani dengan eling.